Halaman

Sabtu, 28 April 2012

Kartini di Film "Wanita Terpilih"

Perjuangan persamaan hak perempuan masih jauh dari tujuan dan masih perlu terus diperjuangkan. Hal ini disampaikan oleh Rulia Iva Dhalina dari Komnas Perempuan dalam pemutaran dan Diskusi Film “Wanita Terpilih” yang diselenggarakan oleh Laboratorium Film Usmar Ismail Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jumat (27/4). 

Film ini disutradarai oleh Bambang Hengky dengan genre dokudrama, mengisahkan perjalanan hidup R.A. Kartini dalam perjuangannya menyetarakan derajat kaum perempuan, khususnya di bidang pendidikan. 

Gambaran keadaan kaum perempuan di tahun 1900-an turut menjadi pokok diskusi dengan menarik benang merah keadaan perempuan Indonesia pada masa sekarang. Budaya pratiarkhi yang masih berlangsung, anggapan perempuan sebagai aset keluarga yang berharga. 35 % perempuan sebagai korban dalam lingkar human trafficking, kesehatan produksi masa hamil dan pasca melahirkan yang masih buruk di daerah-daerah terpencil, sampai pada distorsi gender dalam kehidupan sosial budaya Indonesia. 

Dalam diskusi Rulia menambahkan, persamaan hak asasi dan gender untuk memperoleh keseimbangan keadilan antara laki-laki dan perempuan membutuhkan dukungan dari semua pihak. Sosialisasi tentang emansipasi dilaksanakan sampai pada kalangan akar rumput dan seluruh organisasi baik organisasi besar ataupun kecil dengan berbagai cara. Sanggul dan kebaya ala Kartini jangan sampai hanya menjadi simbol kosong seremonial yang dipakai setiap 21 April tanpa mengetahui dan ikut serta dalam meneruskan perjuangan hak perempuan. 

Sisi lain, Hengky sebagai sutradara berpendapat bahwa wanita tidak boleh lemah dan minder. Kelancaran dalam berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan juga menjadi faktor penting dalam mencapai keadilan yang seimbang. Dari segi penggarapan film, sutradara ini menegaskan, untuk membuat film yang nikmat ditonton membutuhkan kejelian dan ketekunan. Untuk mencapai satu titik keberhasilan, bergeraklah menuju spesifik untuk menjadi profesional.

Pemutaran film yang diselenggarakan di ruang Laboratorium Usmar Ismail ini bertujuan untuk memperingati hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Melalui wadah ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru bagi mahasiswa tentang teknik pembuatan dan menejemen film sekaligus wawasan tentang emansipasi, gender, dan persamaan hak bagi kaum perempuan.

Akhir diskusi ditutup dengan simpulan bahwa keadilan tidak bisa terlaksana jika hanya memperkuat salah satu komponen saja. Keadilan gender dan hak perempuan bisa seimbang dengan turut melibatkan sudut pandang dan peran laki-laki didalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar